Prinsip Dasar
Semikonduktor
merupakan elemen dasar dari komponen elektronika seperti dioda, transistor dan
sebuah IC (integrated circuit). Disebut semi atau setengah konduktor,
karena bahan ini memang bukan konduktor murni. Bahan-bahan logam seperti tembaga,
besi, timah disebut sebagai konduktor yang baik sebab logam memiliki susunan
atom yang sedemikian rupa, sehingga elektronnya dapat bergerak bebas.
Susunan Atom Semikonduktor
Bahan
semikonduktor yang banyak dikenal contohnya adalah Silicon (Si), Germanium (Ge)
dan Gallium Arsenida (GaAs). Germanium dahulu adalah bahan satu-satunya yang
dikenal untuk membuat komponen semikonduktor. Namun belakangan, silikon menjadi
popular setelah ditemukan cara mengekstrak bahan ini dari alam. Silikon
merupakan bahan terbanyak ke dua yang ada di bumi setelah oksigen (O2).
Pasir, kaca dan batu-batuan lain adalah bahan alam yang banyak mengandung unsur
silikon. Dapatkah anda menghitung jumlah pasir di pantai.
Struktur
atom kristal silikon, satu inti atom (nucleus) masing-masing memiliki 4
elektron valensi. Ikatan inti atom yang stabil adalah jika dikelilingi oleh 8
elektron, sehingga 4 buah elektron atom kristal tersebut membentuk ikatan
kovalen dengan ion-ion atom tetangganya. Pada suhu yang sangat rendah (0oK),
struktur atom silikon divisualisasikan seperti pada gambar berikut.
struktur dua dimensi kristal Silikon
Ikatan
kovalen menyebabkan elektron tidak dapat berpindah dari satu inti atom ke inti
atom yang lain. Pada kondisi demikian, bahan semikonduktor bersifat isolator
karena tidak ada elektron yang dapat berpindah untuk menghantarkan listrik.
Pada suhu kamar, ada beberapa ikatan kovalen yang lepas karena energi panas,
sehingga memungkinkan elektron terlepas dari ikatannya. Namun hanya beberapa
jumlah kecil yang dapat terlepas, sehingga tidak memungkinkan untuk menjadi
konduktor yang baik.
Ahli-ahli
fisika terutama yang menguasai fisika quantum pada masa itu mencoba memberikan
doping pada bahan semikonduktor ini. Pemberian doping dimaksudkan untuk
mendapatkan elektron valensi bebas dalam jumlah lebih banyak dan permanen, yang
diharapkan akan dapat menghantarkan listrik. Kenyataannya demikian, mereka
memang iseng sekali dan jenius.
Tipe-N
Misalnya
pada bahan silikon diberi doping phosphorus atau arsenic yang
pentavalen yaitu bahan kristal dengan inti atom memiliki 5 elektron valensi.
Dengan doping, Silikon yang tidak lagi murni ini (impurity semiconductor)
akan memiliki kelebihan elektron. Kelebihan elektron membentuk semikonduktor
tipe-n. Semikonduktor tipe-n disebut juga donor yang siap melepaskan elektron.
doping
atom pentavalen
Tipe-P
Kalau
silikon diberi doping Boron, Gallium atau Indium, maka
akan didapat semikonduktor tipe-p. Untuk mendapatkan silikon tipe-p, bahan
dopingnya adalah bahan trivalent yaitu unsur dengan ion yang memiliki 3
elektron pada pita valensi. Karena ion silikon memiliki 4 elektron, dengan
demikian ada ikatan kovalen yang bolong (hole). Hole ini digambarkan
sebagai akseptor yang siap menerima elektron. Dengan demikian, kekurangan
elektron menyebabkan semikonduktor ini menjadi tipe-p.
doping atom trivalent
Resistansi
Semikonduktor
tipe-p atau tipe-n jika berdiri sendiri tidak lain adalah sebuah resistor. Sama
seperti resistor karbon, semikonduktor memiliki resistansi. Cara ini dipakai
untuk membuat resistor di dalam sebuah komponen semikonduktor. Namun besar
resistansi yang bisa didapat kecil karena terbatas pada volume semikonduktor
itu sendiri.
Dioda PN
Jika dua
tipe bahan semikonduktor ini dilekatkan–pakai lem barangkali ya, maka akan didapat sambungan P-N (p-n junction) yang dikenal
sebagai dioda. Pada pembuatannya memang material tipe P dan tipe N bukan
disambung secara harpiah, melainkan dari satu bahan (monolithic) dengan
memberi doping (impurity material) yang berbeda.
sambungan p-n
Jika
diberi tegangan maju (forward bias), dimana tegangan sisi P lebih besar
dari sisi N, elektron dengan mudah dapat mengalir dari sisi N mengisi
kekosongan elektron (hole) di sisi P.
forward bias
Sebaliknya
jika diberi tegangan balik (reverse bias), dapat dipahami tidak ada
elektron yang dapat mengalir dari sisi N mengisi hole di sisi P, karena
tegangan potensial di sisi N lebih tinggi.
Dioda akan
hanya dapat mengalirkan arus satu arah saja, sehingga dipakai untuk aplikasi
rangkaian penyearah (rectifier). Dioda, Zener, LED, Varactor dan
Varistor adalah beberapa komponen semikonduktor sambungan PN yang dibahas pada
kolom khusus.
Transistor Bipolar
Transistor
merupakan dioda dengan dua sambungan (junction). Sambungan itu membentuk
transistor PNP maupun NPN. Ujung-ujung terminalnya berturut-turut disebut
emitor, base dan kolektor. Base selalu berada di tengah, di antara emitor dan
kolektor. Transistor ini disebut transistor bipolar, karena struktur dan
prinsip kerjanya tergantung dari perpindahan elektron di kutup negatif mengisi
kekurangan elektron (hole) di kutup positif. bi = 2 dan polar = kutup. Adalah
William Schockley pada tahun 1951 yang pertama kali menemukan transistor
bipolar.
Transistor NPN dan PNP
Akan dijelaskan
kemudian, transistor adalah komponen yang bekerja sebagai sakelar (switch
on/off) dan juga sebagai penguat (amplifier). Transistor bipolar
adalah inovasi yang menggantikan transistor tabung (vacuum tube). Selain
dimensi transistor bipolar yang relatif lebih kecil, disipasi dayanya juga
lebih kecil sehingga dapat bekerja pada suhu yang lebih dingin. Dalam beberapa
aplikasi, transistor tabung masih digunakan terutama pada aplikasi audio, untuk
mendapatkan kualitas suara yang baik, namun konsumsi dayanya sangat besar.
Sebab untuk dapat melepaskan elektron, teknik yang digunakan adalah pemanasan
filamen seperti pada lampu pijar.
Bias DC
Transistor
bipolar memiliki 2 junction yang dapat disamakan dengan penggabungan 2 buah
dioda. Emitter-Base adalah satu junction dan Base-Kolektor junction lainnya.
Seperti pada dioda, arus hanya akan mengalir hanya jika diberi bias positif,
yaitu hanya jika tegangan pada material P lebih positif daripada material N (forward
bias). Pada gambar ilustrasi transistor NPN berikut ini, junction
base-emitter diberi bias positif sedangkan base-collector mendapat bias negatif
(reverse bias).
Arus
elektron transistor NPN
Karena
base-emitter mendapat bias positif maka seperti pada dioda, elektron mengalir
dari emitter menuju base. Kolektor pada rangkaian ini lebih positif sebab
mendapat tegangan positif. Karena kolektor ini lebih positif, aliran elektron
bergerak menuju kutup ini. Misalnya tidak ada kolektor, aliran elektron
seluruhnya akan menuju base seperti pada dioda. Tetapi karena lebar base yang
sangat tipis, hanya sebagian elektron yang dapat bergabung dengan hole yang ada
pada base. Sebagian besar akan menembus lapisan base menuju kolektor. Inilah
alasannya mengapa jika dua dioda digabungkan tidak dapat menjadi sebuah transistor,
karena persyaratannya adalah lebar base harus sangat tipis sehingga dapat
diterjang oleh elektron.
Jika
misalnya tegangan base-emitor dibalik (reverse bias), maka tidak akan
terjadi aliran elektron dari emitor menuju kolektor. Jika pelan-pelan ‘keran’
base diberi bias maju (forward bias), elektron mengalir menuju kolektor
dan besarnya sebanding dengan besar arus bias base yang diberikan. Dengan kata
lain, arus base mengatur banyaknya elektron yang mengalir dari emitter menuju
kolektor. Ini yang dinamakan efek penguatan transistor, karena arus base yang
kecil menghasilkan arus emitter-collector yang lebih besar. Istilah amplifier
(penguatan) menjadi salah kaprah, karena dengan penjelasan di atas sebenarnya
yang terjadi bukan penguatan, melainkan arus yang lebih kecil mengontrol aliran
arus yang lebih besar. Juga dapat dijelaskan bahwa base mengatur membuka dan
menutup aliran arus emitter-collector (switch on/off).
Pada
transistor PNP, fenomena yang sama dapat dijelaskan dengan memberikan bias
seperti pada gambar berikut. Dalam hal ini yang disebut perpindahan arus adalah
arus hole.
Arus
hole transistor PNP
Untuk
memudahkan pembahasan prinsip bias transistor lebih lanjut, berikut adalah
terminologi parameter transistor. Dalam hal ini arah arus adalah dari potensial
yang lebih besar ke potensial yang lebih kecil.
arus potensial
IC : arus
kolektor
IB : arus
base
IE : arus
emitor
VC :
tegangan kolektor
VB :
tegangan base
VE :
tegangan emitor
VCC :
tegangan pada kolektor
VCE :
tegangan jepit kolektor-emitor
VEE :
tegangan pada emitor
VBE :
tegangan jepit base-emitor
ICBO :
arus base-kolektor
VCB :
tegangan jepit kolektor-base
Perlu
diingat, walaupun tidak perbedaan pada doping bahan pembuat emitor dan
kolektor, namun pada prakteknya emitor dan kolektor tidak dapat dibalik.
penampang
transistor bipolar
Dari satu
bahan silikon (monolithic), emitor dibuat terlebih dahulu, kemudian base
dengan doping yang berbeda dan terakhir adalah kolektor. Terkadang dibuat juga
efek dioda pada terminal-terminalnya sehingga arus hanya akan terjadi pada arah
yang dikehendaki.
2. Dalam dunia
elektronika kita tidak mungkin terlepas dari apa yang dinamakan bahan–bahan
listrik. Terdapat tiga klasifikasi utama dalam dunia elektronika yang sering
dijumpai yakni; isolator, konduktor dan semikonduktor.
Perbedaan
mendasar dari ketiga jenis bahan ini adalah terletak ada tahanan jenis
tiap–tiap bahan. Untuk isolator memiliki tahanan jenis 104Ωm – 1014Ωm,
konduktor memiliki tahanan jenis 10-7Ωm – 10-8Ωm,
sedangkan untuk semikonduktor memiliki tahanan jenis 10-3Ωm – 3x103Ωm.
Contoh bahan–bahan untuk isolator, konduktor dan semikonduktor adalah sebagai berikut:
Isolator:
- Gelas / Kaca = 1010 Ωm
- Mika = 1011 Ωm
- PVC = 1013 Ωm
- Karet Murni 1012 Ωm s.d. 1014 Ωm
Konduktor :
- Aluminium 2,7×10-8 Ωm
- Brass (70 Cu/30 Zn) 8 × 10-8 Ωm
- Tembaga 1,7×10-8 Ωm
- Baja 15 × 10-8 Ωm
Semikonduktor :
- Silicon 2,3 × 103 Ωm
- Germanium 0,45 Ωm
Pada bahan
konduktor ketika suhu meningkat maka tahanan dari konduktor pun ikut meningkat,
pada isolator perubahan suhu sangat kecil pengaruhnya sehingga sering
diabaikan, sedangkan pada semikonduktor jika suhu meningkat maka tahanan-nya
akan turun.
Dari uraian
diatas nilai tahanan jenis isolator adalah yang tertinggi dari semua bahan,
sehingga memiliki sifat yang kurang baik dalam menghantarkan arus listrik. Pada
bahan konduktor nilai tahanan jenisnya adalah yang terendah sehingga sangat
baik digunakan sebagai penghantar arus listrik.
Bahan
semikonduktor memiliki nilai tahanan jenis yang berada diantara isolator dan
konduktor, sehingga bahan semikonduktor memiliki dua sifat yang berbeda,
semikonduktor bisa bersifat sebagai isolator dan bisa juga bersifat sebagai
konduktor jika mendapat pengaruh dari luar, misalnya suhu. Bahan semikonduktor
banyak digunakan pada komponen aktif elektronika, misalnya pada transistor atau
FET.
Semikonduktor Tidak Murni
Seperti
dijelaskan sebelumnya bahwa silicon dan germanium merupakan salah satu contoh
dari bahan semikonduktor. Jika suhu kedua bahan ini meningkat diatas suhu kamar
maka kedua bahan ini akan bersifat sebagai konduktor. Sedangkan jika suhu kedua
bahan tersebut turun dibawah suhu kamar maka nilai tahanan-nya akan meningkat
dan jika sudah mencapai titik maksimal maka kedua bahan ini akan bersifat
sebagai isolator.
Semikonduktor
murni memiliki jumlah proton dan elektron yang seimbang tetapi jika
semikonduktor ini ditambahkan bahan yang tidak murni maka semikonduktor akan
berubah menjadi tidak murni, proses ini dinamakan ”Doping”. Proses
doping dengan menambahkan bahan antimony, arsenic, atau phosphorus yang
memiliki kelebihan elektron pada semikonduktor murni, menyebabkan semikonduktor
memiliki kelebihan elektron dan menjadikannya sebagai semikonduktor material
tipe-N.
Pada proses
doping, menambahkan bahan indium, aluminium, dan boron yang memiliki kelebihan
proton pada semikonduktor murni menyebabkan semikonduktor memiliki kelebihan
proton dan menjadikannya sebagai semikonduktor material tipe-P.
Hasil kedua
doping inilah yang digunakan pada komponen–komponen elektronika seperti pada
diode dan transistor. Diode merupakan penggabungan dua tipe material
semikonduktor tipe-N dan tipe-P, sedangkan transistor merupakan penggabungan
tiga material semikonduktor tipe-N, tipe-P, dan salah satu dari tipe-N atau
tipe-P, sehingga pada transistor bipolar terdapat dua konfigurasi gabungan
material semikonduktor yaitu P-N-P atau N-P-N.
Sumber Referensi
- Electrical and Electronic Principles and Technology, Third Edition, By John Bird, 2007.
- The ARRL Handbook For Radio Communications 2009.
- Lesson In Electric Circuits, Volume III – Semiconductors, By Tony R. Kuphaldt, Fifth Edition.
Untuk merubah jumlah pembawa muatan, semikonduktor intrinsic harus diberi pengotor atau impurities. Pengotor akan menciptakan sebuah tingkatan energi diantara pita valensi dan pita konduksi. Semikonduktor tipe-n adalah semikonduktor dengan kelebihan muatan negative, pada silicon, penambahan atom dengan lima electron valensi (seperti phosphor) akan meciptakan tingkat energy baru dengan posisi sedikit di bawah pita konduksi yang dinamakan tingkatan donor.
Tambahan electron dari phosphor akan menempati tingkat energy baru ini dan dengan hanya sedikit saja jumlah energy akan menaikkan electron ini ke pita konduksi sehingga akan menambah jumlah pembawa muatan negative. Semikonduktor tipe-p adalah semikonduktor dengan dengan kelebihan pembawa muatan positif, pada silicon, penambahan atom dengan tiga electron valensi akan menciptakan tingkat enegi baru dengan posisi sedikit di atas pita valensi yang dinamakan tingkatan akseptor. Electron pada pita valensi akan berpindah ke tingkat energy ini sehingga menciptakan lubang atau hole pada pita valensi dan akan menambah jumlah pembawa muatan positif.
Jika semikonduktor tipe-p dan tipe-n digabungkan maka pada sembungan akan terjadi proses difusi akibat ketidak seimbangan muatan diantara kedua material semikonduktor, semua hole pada sambungan akan terisi oleh electron sehingga tidak ada lagi electron bebas. Difusi ini menyebabkan terbentuknya lapisan pengosongan atau deplesi, pada lapisan ini semikonduktor kembali pada sifat isolatornya. Jika ujung tipe-n disambungkan dengan kutub negative suatu tegangan dan tipe-p disambungkan dengan kutub positif tegangan, maka electron pada lapisan deplesi akan terdorong keluar dari hole dan kembali menjadi elekron bebas sedangkan hole yang ditinggalkannya akan terisi kembali oleh electron (terjadi rekombinasi) dari tipe-n begitu seterusnya.
Gbr.
Rekombinasi electron hole dan emisi foton pada junction
Terjadinya rekombinasi berarti electron dari tingkat energy
yang lebih tinggi “jatuh” ke tingkat energy yang lebih rendah atau biasa
disebut dengan deeksitasi. Rekombinasi electron-hole ini bisa bersifat radiatif
(mengemisikan foton) dan non-radiatif bergantung pada struktur pita dari semikonduktor.
Ada dua kemungkinan struktur pita dari semikonduktor yaitu
pita energy langsung (direct bandgap) dan pita energy tak langsung (indirect
bandgap).Silikon adalah material dengan struktur pita energi tidak langsung (indirect bandgap), di mana nilai minimum dari pita konduksi dan nilai maksimum dari pita valensi tidak bertemu pada satu harga momentum yang sama. Ini berarti agar terjadi eksitasi dan rekombinasi dari pembawa muatan diperlukan perubahan yang besar pada nilai momentumnya atau dapat dikatakan dibutuhkan bantuan sebuah partikel dengan momentum yang cukup (seperti phonon) untuk mengkonservasi momentum pada semua proses transisi. Dengan kata lain, silikon sulit memancarkan cahaya. Sifat ini menyebabkan silikon tidak layak digunakan sebagai piranti fotonik/optoelektronik.
GaAs adalah material semikonduktor dengan struktur pita energy langsung (direct bandgap), dimana, nilai minimum dari pita konduksi dan nilai maksimum dari pita valensi bertemu pada satu harga momentum yang sama. Pada material ini electron bebas pada minimum pita konduksi dapat melakukan rekombinasi denganhole di maksimum pita valensi, karena momentum dari kedua “partikel” sama, maka, foton dapat diemisikan sebagai konsekuensi dari hokum konservasi energy.
No comments:
Post a Comment